Sep 18 2009
Semangat Mudik Lebaran sang Ibu
Delapan kali puasa, delapan kali Lebaran tak pulang-pulang, membuat semangat mudik Lebaran “Wa Awa” yang berusia 70 tahun tak tertahankan lagi. Walau harus dengan menaiki kursi roda karena kakinya tak kuat lagi berjalan, Wa Awa pun rela berdesak-desakan di antara ribuan penumpang mudik Lebaran di Pelabuhan Semayang, Balikpapan Kalimantan Timur, pada H-8.
Pemandangan itu sempat menarik perhatianku. Desak-desakan setiap tahun di antara penumpang mudik Lebaran pada penumpang kapal sudah menjadi pemandangan umum. Mulai dari orang dewasa, anak-anak bahkan bayi membaur menjadi satu untuk naik ke atas kapal. Tujuannya agar di atas kapal dapat tempat tidur. Padahal sudah diketahui, kalau pada saat ramai begitu, bagi kelas ekonomi “biasa” pasti tak dapat tempat tidur. Mereka harus rela menempati lorong-lorong kelas, di bawah tangga, di buritan kapal, di dek-dek bahkan di depan WC kapal. Penumpang kelas ekonomi yang dapat menikmati tempat tidur, sebagian besar “membeli” dari calon di atas kapal.
Bagi yang berkocek agak tebal tentu tak masalah dengan tempat tidur, karena dengan membeli tiket kelas hal ini bisa diatasi, walau harus pesan jauh-jauh hari. Atau kalau mau berspekulasi,beli saja tiket ekonomi dan ketika sudah ada di atas, coba cari informasi ke awak buah kapal yang mau “menjual” tempat tidurnya.
Yah, begitulah permandangan dan permasalahan yang selalu dihadapi sebagian besar pemudik. Hal ini juga terjadi bagi mereka yang naik pesawat udara. Mereka harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Bagi perusahaan airlines ini merupakan masa panen. Apalagi sekarang diterapkan tarif batas atas dan bawah, membuat mereka langsung memasang harga paling atas. Seperti penerbangan dari Balikpapan ke Surabaya biasanya tiket dapat dibeli di bawah harga Rp500 ribu, tetapi sekarang harganya lebih dari dua kali lipat.Belum lagi apabila tiket di konter airlines sudah habis, salah satu alternatifnya mencari di calo. Entah bagaimana calo ini mendapatkan tiket, namun dengan membayar ongkos lebih besar lagi, pasti tiket bisa kita dapatkan.
Kenapa kita mau bersusah payah berdesak-desakan, dan membayar lebih mahal? Jawabannya Cuma satu: yang penting bisa mudik! Mudik bareng yang hanya terjadi di Indonesia ini memang beragam alasan. Yang jelas, kita ingin ber-Lebaran bersama keluarga, orang tua maupun teman-teman di kampung. Itu pulalah yang membuat semangat “Wa Awa” walau kakinya tak bisa berjalan, tapi semangat mudik masih terus bekobar. Padahal perjalanan “Wa Awa” yang ditemani sang anak masih sangat jauh. Dari Balikpapan menumpang kapal Pelni ke Makassar terus ke Bau-bau, dan melanjutkan lagi dengan kapal lain ke Ambon. Sebab, ibu asal Buton ini tujuan akhirnya adalah di Tual, yang diperkirakan ditempuh selama 4 hari.
Semangat mudik Sang Ibu itulah yang membuat aku juga ikut-ikutan mudik. Walau sebenarnya tahun ini aku tidak merencanakan mudik, namun akhirnya aku bersama istri dan kedua anakku menempuh perjalanan dari Balikpapan ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan dengan menaiki bus. Di kota Banjarmasin inilah, tempat tinggal Mertua bersama tiga putrinya. Paling tidak kedatangan kami sekeluarga bisa mengobati kerinduan Ibu mertua, walau sebenarnya semangat mudik bagiku yang tak tertahankan lagi adalah ke kota kelahiranku Malang Jawa Timur.
Sudah sekian tahun, aku tak pulang kampung di saat Lebaran. Kerinduanku biasanya aku obati dengan menelepon Ibuku dan adik-adikku, atau aku sampaikan lewat doa-doaku usai shalat.
Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Banjarmasin, 18 September2009.


